Jumat, 23 Juni 2017

Siapkah kita menghadapi Revolusi Dunia yang ke-3?

Ancaman terbesar sekaligus peluang/tantangan bagi manusia kedepannya adalah ketidakmampuannya dalam beradaptasi menghadapi era revolusi dunia yang ke-3. Apa itu revolusi dunia ke-3? Siapkah kita menghadapinya? Tulisan berikut ini akan mengulas apa dan bagaimana revolusi dunia yang ke-3, serta hal hal apa yang harus kita persiapkan agar dapat survive menghadapi puncak revolusi tersebut. OK, here We go ...


Manusia hingga saat ini telah melewati 2 puncak peradaban sepanjang sejarah eksistensinya di muka bumi. Puncak peradaban pertama adalah ketika manusia berpindah kuadran dari kehidupan berburu menjadi kehidupan agraris : mengolah tanah serta menanaminya dengan tanam tanaman yang diperlukan untuk keperluan kehidupannya, serta menjinakkan hewan liar menjadi hewan ternak. Puncak pertama peradaban agraris baru terjadi ribuan tahun kemudian sejak era awal manusia mengenal bercocok tanam, tepatnya ketika Bangsa Andalusia (sekarang wilayah di Spanyol dan Portugal) mampu mengolah tanah tanah kering dan tandus dengan curah hujan yang minim di daerah tersebut menjadi tanah pertanian yang subur hijau dan menghasilkan produk pertanian bermutu tinggi.

Demikian juga dengan puncak peradaban kedua setelah revolusi pertanian, yaitu dimulai dari ditemukannya metal ribuan tahun silam dan digunakannya metal tersebut sebagai bahan baku pembentuk perkakas dan peralatan penunjang kehidupan manusia. Tonggak dari revolusi metal yang telah dimulai penggunaannya sejak ribuan tahun tersebut baru mengalami puncak momentum Revolusi, tepatnya pada abad ke 19 yang dikenal dalam buku buku sejarah sebagai Revolusi Industri.

Mari kita perhatikan 2 tonggak revolusi yang kita ulas diatas, "Pemenang" revolusi pertama ternyata bukanlah penguasa yang menguasai luasan tanah tanah yang subur, melainkan yang mampu mengolah tanah yang subur maupun yang tidak subur dan mewujudkannya menjadi sumberdaya yang optimal untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas Sumberdaya Manusia. Inilah yang terjadi pada peradaban Andalusia ketika muslim memasuki negeri itu dan mewujudkan Revolusi Pertama dalam tonggak peradaban manusia.

Melalui revolusi pertama, terjadi perubahan radikal dari cara hidup manusia yang semula hidup secara nomaden menjadi tinggal secara menetap dan membangun peradaban berbasis komunitas dengan lebih intensif. Pada Era Andalusia itulah pajak tanah dihapus dan digantikan dengan zakat hasil pertanian, maka pada momentum itulah revolusi pertama dunia , revolusi pertanian terjadi.

Selanjutnya, berselang ratusan tahun kemudian setelah era revolusi pertama tersebut, lahirlah Revolusi kedua yaitu revolusi industri yang sudah dirintis prosesnya menuju revolusi kedua tersebut jauh ribuan tahun sebelumnya sejak manusia mengenal metal. Pada revolusi kedua ini, yaitu revolusi industri, manusia meng-create mesin mesin besar berkapasitas massif sehingga merubah cara orang memproduksi barang dari produksi ritel (satuan) menjadi produksi massal (dalam jumlah/kuantity besar).

Pada era yang kita jalani saat ini, kita dihadapkan pada momentum menuju revolusi dunia yang ke-3. Apa itu revolusi dunia yang ke-3? Revolusi dunia yang ke-3 adalah Revolusi Informasi. Sebagaimana yang kita alami saat ini, kita hidup di era Big Data, dimana informasi terakses ke kita dengan sangat cepat, terbuka, dan mudah. Para pemenang yang mampu survive dalam era revolusi dunia ke-3 ini adalah mereka yang mampu mengelola big data dan menguras kantong konsumen dunia melalui kepiawaian dalam mengelola Big Data.

Banyak yang berpendapat era revolusi dunia yang ke-3 belum terjadi, hal ini ditandai dengan masih terus bertumbuhannya startup yang terkait dengan big data dalam pentas industri informatika dunia.

Berdasarkan estimasi, pengguna jejaring internet akan mencapai 5 miliar pada tahun 2020, hal ini akan menjadi sumberdaya dan inspirasi bagi terjadinya percepatan Revolusi dunia yang ke-3 yaitu Revolusi Informasi.

Dari panjang lebar uraian diatas, tentu Revolusi dunia yang ke-3 bisa menjadi ancaman sekaligus peluang bagi kita semua. Karena sebagaimana kita sadari, negeri kita ,Indonesia merupakan salah satu negeri yang dikaruniai kekayaan akan sumberdaya tanah yang subur, bahan metal yang besar didalam perut buminya, serta besarnya populasi penduduknya yang masuk dalam 5 besar negara berpopulasi penduduk terbanyak. Dalam kacamata Revolusi Informasi, atau Revolusi Big Data, posisi masyarakat di Indonesia sangatlah strategis untuk dapat mengail peluang dalam menjadi bagian dari masyarakat yang berhasil survive melewati tonggak Revolusi ke-3 ini.

Resikonya, apabila kita terlambat dalam merespons dan mempersiapkan diri menghadapi puncak revolusi dunia yang ke-3 ini maka kita akan tertelan dalam ombak revolusi dan hanya berada dalam piramida terbawah dalam revolusi, menjadi konsumen atau sekedar pengikut dan penggembira dari puncak revolusi yang kemungkinan akan mencapai momentumnya dalam era kehidupan kita saat ini.

Sebagai penutup, berikut 3 hal yang harus kita siapkan dalam menghadapi puncak dari revolusi dunia yang ke-3 , yaitu Big Data :

Pertama, fokus untuk meningkatkan kompetensi di bidang apapun sesuai passion yang dimiliki, kemudian online-kan kompetensi anda tersebut dengan target audience yang sesuai dengan kompetensi dan minat anda. Jangan lupa untuk terus update terkait kompetensi bidang Anda seiring dengan perkembangan yang Anda tekuni. salah satu cara yang bisa dilakukan adalah melalui web base/applikasi online, contohnya yang penulis lakukan dengan membuat blog ini dengan kekhususan pada konsentrasi obyek tertentu.

Kedua, fokus untuk memberikan nilai tambah (value added) dan menjadi bagian dari jaringan big Data yang saling berbagi, melengkapi, dan terintegrasi secara online.

Ketiga, fokus untuk selalu siap beradaptasi dengan perubahan yang terjadi, dengan tetap mempertahankan nilai moral (moral value) yang dianut. Karena perubahan tanpa mengindahkan moral dan attitute akan menghasilkan perubahan ke arah yang destruktif dan tidak sejalan dengan semangat perbaikan dalam diri manusia itu sendiri.

Tanpa kesiapan untuk fokus pada 3 hal diatas, maka jangan salahkan diri anda kelak jika hanya menjadi obyek dari revolusi dunia yang ke-3 , masuk menjadi barisan konsumen dan sekedar follower dari para pemain dalam revolusi big data di masa yang akan datang. Wallahu a'lam.


Catatan penulis :
  • Tulisan ini diadaptasi dari artikel dengan topik ulasan pada tema sejenis yang ditulis oleh Blogger Muhaimin Iqbal di link ini.

Kamis, 22 Juni 2017

Ternyata Tindakan Sederhana ini Efektif Menghancurkan Riba secara perlahan, Sudahkah Anda Mengetahuinya?

Jeratan riba/rente adalah sumber dari segala sumber penyebab kemiskinan dan hancurnya kehidupan banyak orang. Ternyata tindakan sederhana ini efektif menghancurkan riba secara perlahan. Sudahkah Anda Mengetahuinya? Yuk kita simak penjelasannya berikut ini...




Pada tulisan sebelumnya di blog ini  telah kita kupas secara tuntas bahwa  uang yang dibuat oleh Bank Sentral dan kita gunakan sehari-hari ternyata berasal dari hutang . Akibatnya,  uang menjadi barang/obyek rente karena sumber pengadaannya yang berasal dari kredit/hutang. Dengan demikian, maka konsekuensinya, setiap orang yang memegang dan mentransaksikan uang Bank baik secara langsung maupun tidak langsung dalam media transaksi ekonomi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam mata rantai riba/rente,sekalipun uang yang didapatkannya melalui jalan usaha yang halal tetaplah tidak bisa membersihkan materi uang yang asal muasal pembuatannya dari sumber rente/kredit yang menjadi pembentuknya.  Hal ini sejalan dengan Sabda Rosulullah yang telah mengingatkan kita lebih dari 14 abad yang lampau, yang kurang lebih berbunyi ;

 "Sungguh akan datang satu jaman di tengah umat manusia, tidak akan ada satupun orang kecuali dia akan makan riba. Jika dia (tidak) memakannya (sekalipun) dia akan terkena asapnya."

Setelah kita mengetahui peringatan Baginda Rasulullah diatas, Beliau SAW juga memberikan kita "kabar baik" nya, yaitu bahwa dijanjikan kelak Riba akan dihancurkan dari muka bumi ini atas ijin Allah dan digantikan dengan disuburkannya sedekah, dengan perumpamaan dihancurkannya riba ini dengan kalimat yang sangat indah berbunyi "hancurnya riba seperti benang yang terlepas dari kainnya. "

Sekedar mengingatkan, bahwa kain berasal dari jalinan antar benang. Dan penyebab rusaknya kain adalah ..istilah jawa nya "mrotol" nya benang pada kain sehingga lama lama kainnya hancur.

Sadarkah kita, melalui analogi tersebut, Rasulullah SAW telah memberi kita clue/kata kunci bagaimana riba hancur dari muka bumi ini? Ya! melalui analogi kain tersebut, Riba hancur karena jalinan benang dalam kain terlepas satu per satu.

Jika riba diibaratkan sebagai sehelai kain, maka untaian benang yang menjalin membentuk kain adalah : Transaksi riba/rente! Dengan demikian, jika kita PUTUS TRANSAKSI nya maka "untaian benang" transaksi transaksi riba/rente akan dengan sendirinya terlepas dari "kain" sistem riba/rente yang selama ini memenjarakan kehidupan kita.

Apa saja transaksi riba/rente? Jawabnya sebanyak transaksi perekonomian yang ada di masyarakat. Mulai dari transaksi jual-beli, transaksi sewa-menyewa, transaksi pinjam-meminjam, transaksi titip-menitip, transaksi pembayaran gaji/upah pekerja, dan lain lain. Namun demikian ada benang merah dari semua transaksi tersebut yang menjadi benang utama penyusun riba/rente ditengah tengah masyarakat...apakah itu?

Salah satu benang merah utama penyusun kain sistem riba/rente adalah UANG!

Selama kita masih bertransaksi menggunakan uang yang diterbitkan melalui mekanisme ribawi oleh Bank Sentral maka selama itulah penjara riba rente akan selalu mengkerangkeng setiap denyut nadi dan nafas kehidupan kita.

Karena itu langkah sederhana yang dapat kita lakukan untuk meruntuhkan sistem riba bisa dimulai dengan MENGURANGI porsi simpanan cadangan uang yang dimiliki dengan cara memindahkan simpanan yang selama ini kita simpan dalam bentuk nominal uang baik berupa saldo uang di bank, saldo uang di media uang elektronik, maupun fisik uang tunai di tangan. Kepemilikan nominal uang yang kita miliki hanya kita pertahankan sesuai dengan tingkat kebutuhan minimum yang diperlukan untuk transaksi kebutuhan pokok yang hanya bisa dilakukan dengan nominal uang Bank.

Lantas setelah kita kurangi porsi simpanan cadangan uang yang dimiliki, dipindahkannya kemana? Sebaik-baik tempat dipindahkan ke sedekah/donasi/sumbangan kepada lembaga layananan kemasyarakatan yang membutuhkan. Setelah sedekah, sebagaimana arahan Rosulullah SAW, beliau sangat tegas mengingatkan agar kita tidak meninggalkan generasi yang lemah akibat tidak adanya warisan ekonomi yang layak untuk memenuhi kebutuhan hidup generasi pelanjut agar lebih baik. Oleh karena itu, porsi uang simpanan yang terbaik untuk dipindahkan adalah ke bentuk fisik yang setara tunai, yaitu ke bentuk Emas batangan, atau Koin Dinar Emas.

Mengapa fisik koin dinar emas yang sangat kami rekomendasikan sebagai cara sederhana dan efektif dalam menghancurkan riba secara perlahan? Karena perpindahan aset dari uang Bank ke fisik koin Dinar Emas tidak menimbulkan goncangan ekonomi, malah sebaliknya dalam jangka pendek maupun panjang justru meningkatkan ketahanan ekonomi masyarakat yang memegang aset fisik koin dinar emas. Melalui transaksi perpindahan dari nominal uang Bank ke aset fisik koin Dinar Emas ANTAM inilah transaksi ekonomi ritel tetap terjaga pertumbuhannya, karena koin dinar oleh Negara dimasukkan dalam kategori barang jewellery/perhiasan sehingga setiap keping pencetakannya oleh manufaktur memberikan kontribusi langsung kepada pendapatan Negara.

Jika semakin banyak anggota masyarakat yang melakukan tindakan sederhana berupa aksi memindahkan aset uang tunai Bank yang dimiliki di dalam saldo rekening Bank, lipatan dompet, celengan di rumah, dan lipatan dompet ke bentuk fisik koin Dinar Emas , maka tindakan itu akan menyumbang kejatuhan Riba/Rente dalam jangka panjang laksana benang yang terlepas dari kainnya, dikarenakan uang Bank adalah tulang punggung dari transaksi riba/rente. Dengan berpindahnya uang Bank ke bentuk fisik koin Dinar Emas, atau Emas Batangan maka uang kembali lagi kepada fitrahnya sebagai benda yang sepenuhnya memiliki aset ekstrinsik (bernilai dari angka nominal yang tercantum) dan aset intrinsik (bernilai dari fisik materi uangnya) sekaligus.

Jika bukan Anda yang melakukan tindakan sederhana memindahkan aset tabungan uang tunai Bank ke fisik koin Dinar Emas atau Emas Batangan, maka akan ada orang lain yang akan melakukannya. Karena janji Allah dan Rosul-NYA pasti ditepati dan akurat akan terbukti menjadi nyata.

Bencana kemerosotan dan kehancuran nilai dan daya beli uang Bank terhadap barang dan jasa yang berdedar di masyarakat pasti akan terjadi kelak sebagaimana merosotnya daya beli uang kita melalui mekanisme ilmiah yang bernama "inflasi". Semoga kita tidak menjadi bagian dari orang - orang yang menyesal karena terlambat bertindak dalam menyikapi informasi yang diterima. Mari kita amankan aset tabungan masa depan kita ke bentuk fisik Dinar Emas atau Emas Batangan untuk menjaga agar masa depan kita tidak terimbas dari resiko kehancuran daya beli uang Bank, amankan segera dengan bertransaksi pada jaringan distribusi Dinar Emas terdekat dari tempat tinggal kita. 

Disclaimers :
  • Meskipun tulisan ini dibuat oleh penulis dengan sangat hati - hati berdasarkan data terbatas yang dimiliki oleh penulis,namun tulisan ini hanyalah opini/pendapat pribadi penulis.
  • Sangat disarankan untuk membaca tulisan penulis sebelumnya terkait dengan tulisan ini, di link artikel ini, dan ini.
  • Penulis tidak bertanggungjawab atas segala resiko yang timbul dari digunakannya tulisan ini sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan.

























Sungguh akan datang satu zaman di tengah umat manusia, tidak ada satupun orang kecuali dia akan makan riba. Jika dia memakannya, dia akan terkena asapnya.

Read more http://pengusahamuslim.com/5433-hadis-debu-riba.html